HMJHI-UPH
Minggu lalu selama kurang lebih satu minggu, Indonesia diguncang oleh isu kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang rencananya akan dilaksanakan per tanggal 1 April 2012 kemarin.
Mendengar isu tersebut, tak sedikit rakyat Indonesia yang menolak akan kenaikan harga BBM tersebut dengan cara melakukan aksi demonstrasi. Ya, demonstrasi yang sudah biasa kita lihat sebagai penyebab kemacetan ibukota Jakarta pada hari Jumat lalu ternyata serempak dilakukan di berbagai belahan wilayah NKRI.
Sebagai negara yang menjunjung nilai - nilai demokrasi, adanya aksi demonstrasi sebagai salah satu cara menyampaikan aspirasi rakyat bukanlah hal yang baru di negeri ini. Secara pribadi, saya sendiri mendukung adanya aksi demokrasi tersebut selama dalam batas wajar dan tidak merugikan keadaan sekitar serta / mengganggu kenyamanan dan ketentraman masyararakat lainnya serta tidak merusak fasilitas umum.
Tetapi jika salah satu kelompok demonstran itu adalah para mahasiswa yang melakukan aksi demonya dengan sikap anarkis? Eits, tunggu dulu! Seperti yang saya katakan di atas, aksi demo itu sah-sah saja hukumnya dan terkadang perlu asalkan masih dalam batasnya. Tapi jika yang melakukan aksi demo anarkis ternyata juga adalah golongan mahasiswa? Hmm rasanya sulit diterima, ya. Mengapa demikian? Karena mahasiswa merupakan kaum terpelajar yang seharusnya mendahulukan akal sehat ketimbang emosi belaka apalagi jika sudah sampai merusak fasilitas umum - memblokir gerbang tol - membuat kemacetan dan ketakutan warga dimana - mana. Alhasil, apa yang mahasiswa - mahasiswa tersebut dapatkan? Bukan aspirasi mereka yang akan diterima dan disorot warga, justru mereka hanya akan mendapatkan caci maki dan antipati warga.
Mereka para mahasiswa pendemo yang sedang mengenyam bangku pendidikan tertinggi diharapkan dapat menjadi teladan dalam sikap dan pikiran dalam menyampaikan aspirasi rakyat justru bertindak sebaliknya.
Sebagai sesama mahasiswa, saya cukup kesal dengan apa yang dilakukan oleh para mahasiswa yang melakukan aksi demo secara anarkis di beberapa wilayah di Indonesia. Maka jika ditanya perlukah mahasiswa berdemo? Perlu. Dengan cara yang anarkis? Tentu tidak. Berdemo-lah dengan cara - cara yang sewajarnya, tanpa tindakan anarkis, tanpa merusak fasilitas umum, tanpa membahayakan nyawa sesamamu.
(Gita, HI UPH 2009)
Our cover in Asia: politics is preventing India from fulfilling its vast economic potential.
KPK tidak lama akan memiliki penjara khusus koruptor. Penjara khusus koruptor ini diharapkan dapat menjaga para koruptor selama masa tahanan untuk tidak berkeliaran kemana-mana, seperti Gayus, dan membatasi jam berkunjung tamu. Ruang tahanan ini terletak berdekatan dengan lokasi parkir mobil, dibawah lobi gedung KPK. Dulunya, ruangan ini difungsikan untuk gudang. Menempati ruangan seluas 80 meter persegi, penjara ini memiliki lima kamar seluas 3,1 x 3,5 meter persegi dan dua toilet. Namun. pertanyaannya adalah apakah penjara tersebut sama dengan penjara biasa? Bagaimana dengan fasilitas yang ada?
Penjara khusus ini dilengkapi CCTV untuk memonitoring tahanan dan CCTV ini langsung terhubung dengan kementrian hukum. Ruang tamu, kamar mandi yang dilengkapi dengan shower dan WC jongkok; kamar tahanan yang dilengkapi dengan ranjang, lemari pakaian, desk, drawer, dan AC. Sayangnya, semua fasilitas yang ada di penjara khusus tersebut bisa dibilang mewah dan berbeda dari penjara umumnya.


Bisa dilihat perbedaan kamar tidur tahanan yang berbeda dari sel / kamar tidur di penjara pada umumnya. Ranjang yang akan digunakan oleh para koruptor terlihat lebih empuk dan mewah, kamar tersebut juga memiliki AC, lemari pakaian, serta drawer yang jelas tidak dimiliki di penjara pada umumnya. Barang barang yang ada di penjara KPK juga bisa dikatakan masih baru dan berbeda dengan yang telah dikatakan sebelumnya oleh juru bicara KPK jika barang yang diguanakan adalah barang bekas. Kamar mandi yang disediakan oleh KPK juga bisa dibilang berbeda dengan kamar mandi di rutan, karena memilki shower. Bisa dikatakan jika penjara khusus koruptor ini lebih mirip dengan kamar kost daripada penjara.
Apakah para koruptor, ‘pencuri uang rakyat’ ini masih harus menikmati fasilitas mewah? Apakah penjara ini efektif berjalan sesuai dengan yang direncanakan, atau hanya seperti rencana baju tahanan khusus bagi koruptor yang tidak pernah dilaksanakan? Atau penjara hanya sebagai penyamaran agar para koruptor bisa bebas berkeliaran dengan aman?
(Oleh: Marsha Susetyo, HI UPH 2009)
(Oleh: Rocky Intan, mahasiswa HI UPH angkatan 2009)
Dalam waktu dua tahun, Indonesia akan kembali memilih presiden untuk masa periode lima tahun. Dapat dipastikan, negara kita tidak akan lagi dipimpin oleh Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kecuali beliau meniru Vladimir Putin, yang akan mencalonkan diri menjadi Presiden Rusia untuk ketiga kalinya tanpa berturut-turut. Berbeda dengan tahun 2009, pemilu 2014 dipastikan lebih diwarnai dengan ketidakpastian. Pada tahun 2009, hampir pasti bahwa Pak SBY akan menjabat untuk kedua kalinya. Pada tahun 2014 nanti, bahkan belum jelas siapa saja calon dari masing-masing partai politik, setidaknya hingga artikel ini ditulis.
Tidak ada kata terlalu awal untuk mulai memikirkan mengenai siapa yang akan memimpin negeri ini dalam dua tahun mendatang. Apa saja kualitas yang wajib dimiliki oleh presiden kita?
Pertama, kemampuan untuk menghimpun tim yang luar biasa. Seorang pemimpin besar bergantung pada tim hebat yang bekerja mendukungnya. Ia mampu mengenali individu-individu yang bertujuan dan kemampuan sama dan setara dengannya untuk kepentingan bersama. Performa ekonomi Indonesia yang sehat dibawah pemerintahan SBY berhutang banyak pada Sri Mulyani, Mari Elka Pangestu, Boediono, dan lain-lain. Jelas, kejelian presiden dalam menghimpun tim berpengaruh besar pada kesuksesan pemerintahannya.
Kedua, berpandangan jauh kedepan. Seorang pemimpin memandang jauh kedepan sementara yang lain sibuk dengan permasalahan sementara. Seorang presiden mampu melihat apa yang dibutuhkan oleh bangsanya, tidak hanya apa yang ia sendiri butuhkan untuk menjadi presiden untuk kedua kalinya. Daripada menghambur-hamburkan dana pemerintah dengan membagikan uang tunai ke rakyat tidak mampu, presiden yang berpandangan jauh kedepan akan menggunakannya untuk meningkatkan tingkat pendidikan dan infrastruktur negara, yang lebih efektif dalam mengatasi kemiskinan.
Ketiga, berani bertindak. Seorang pemimpin seyogyanya tahu keputusan apa yang harus diambil dan berani melakukannya. Misalnya, mustahil presiden dan para menterinya tidak tahu apa yang harus dilakukan mengenai organisasi-organisasi masyarakat berbau agama yang main hukum sendiri. Bukan kepentingan politik golongan yang menghalangi presiden, namun ketidakberanian beliau untuk bertindak. Seorang presiden seharusnya berani untuk berdiri melampaui kepentingan politik golongan demi kepentingan nasional. Barack Obama, presiden Amerika Serikat, perlu dicontoh ketika dengan berani ia secara langsung memerintahkan pembunuhan Osama bin Laden.
Demikian aspirasi penulis mengenai presiden kita di tahun 2014. Kurun waktu dua tahun akan lewat tanpa terasa. Mari kita berharap siapapun yang terpilih nanti dapat membawa Indonesia maju lebih baik!
(Oleh: Rocky Intan, mahasiswa HI UPH angkatan 2009)
Dalam waktu dua tahun, Indonesia akan kembali memilih presiden untuk masa periode lima tahun. Dapat dipastikan, negara kita tidak akan lagi dipimpin oleh Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kecuali beliau meniru Vladimir Putin, yang akan mencalonkan diri menjadi Presiden Rusia untuk ketiga kalinya tanpa berturut-turut. Berbeda dengan tahun 2009, pemilu 2014 dipastikan lebih diwarnai dengan ketidakpastian. Pada tahun 2009, hampir pasti bahwa Pak SBY akan menjabat untuk kedua kalinya. Pada tahun 2014 nanti, bahkan belum jelas siapa saja calon dari masing-masing partai politik, setidaknya hingga artikel ini ditulis.
Tidak ada kata terlalu awal untuk mulai memikirkan mengenai siapa yang akan memimpin negeri ini dalam dua tahun mendatang. Apa saja kualitas yang wajib dimiliki oleh presiden kita?
Pertama, kemampuan untuk menghimpun tim yang luar biasa. Seorang pemimpin besar bergantung pada tim hebat yang bekerja mendukungnya. Ia mampu mengenali individu-individu yang bertujuan dan kemampuan sama dan setara dengannya untuk kepentingan bersama. Performa ekonomi Indonesia yang sehat dibawah pemerintahan SBY berhutang banyak pada Sri Mulyani, Mari Elka Pangestu, Boediono, dan lain-lain. Jelas, kejelian presiden dalam menghimpun tim berpengaruh besar pada kesuksesan pemerintahannya.
Kedua, berpandangan jauh kedepan. Seorang pemimpin memandang jauh kedepan sementara yang lain sibuk dengan permasalahan sementara. Seorang presiden mampu melihat apa yang dibutuhkan oleh bangsanya, tidak hanya apa yang ia sendiri butuhkan untuk menjadi presiden untuk kedua kalinya. Daripada menghambur-hamburkan dana pemerintah dengan membagikan uang tunai ke rakyat tidak mampu, presiden yang berpandangan jauh kedepan akan menggunakannya untuk meningkatkan tingkat pendidikan dan infrastruktur negara, yang lebih efektif dalam mengatasi kemiskinan.
Ketiga, berani bertindak. Seorang pemimpin seyogyanya tahu keputusan apa yang harus diambil dan berani melakukannya. Misalnya, mustahil presiden dan para menterinya tidak tahu apa yang harus dilakukan mengenai organisasi-organisasi masyarakat berbau agama yang main hukum sendiri. Bukan kepentingan politik golongan yang menghalangi presiden, namun ketidakberanian beliau untuk bertindak. Seorang presiden seharusnya berani untuk berdiri melampaui kepentingan politik golongan demi kepentingan nasional. Barack Obama, presiden Amerika Serikat, perlu dicontoh ketika dengan berani ia secara langsung memerintahkan pembunuhan Osama bin Laden.
Demikian aspirasi penulis mengenai presiden kita di tahun 2014. Kurun waktu dua tahun akan lewat tanpa terasa. Mari kita berharap siapapun yang terpilih nanti dapat membawa Indonesia maju lebih baik!
What is that? Did you know that today (February 21) is also known as an “International Mother Language Day”? The United Nations’ International Mother Language Day is annually held on February 21 to celebrate languages spoken worldwide, to encourage people to maintain their knowledge of their mother language while learning and using more than one language. Besides, it also keeps in mind events of the killing of four students in Bangladesh on this date year 1952, because they fought to formally bring into play their mother language, Bengali.
In Bangladesh, this International Mother Language Day is a public holiday, where it is also known as Shohid Dibosh, or Shaheed Day. It’s a global observance but not a public holiday in some parts of the world.
Public (in Bangladesh) lay flowers at a Shaheed Minar (martyr’s monument). They also buy glass bangles for themselves, eat a merry meal, and reward prizes to literates or host literary contests. It is a time to commemorate Bangladesh’s ethnicity and the Bengali language.
